Agneta and the Sea King

Agneta dan Raja Laut

dongeng, fiksi, kisah tragis, mitos, situs bersejarah dunia, Uncategorized

Berawal dari balada yang dinyanyikan turun temurun, Agneta dan Raja Laut adalah sebuah dongeng kuno tragis yang tidak hanya terkenal karena gaya Scandinavia nya atau patungnya di dasar sungai, namun juga karena ilustrasi memikat karya John Bauer.

Tak ada yang dapat memastikan dari mana asalnya dongeng ini, beberapa orang mengatakan dari Jerman dan beberapa lainnya dari Denmark. Versi nya pun dibuat bermacam – macam. Salah satu versi yang bertahan hingga jaman modern adalah versi Swedia di bawah ini.

Agneta dan Raja Laut

 

Saat itu musim panas ratusan tahun yang lalu, dan dunia sama indahnya dengan saat ini. Hutannya sehijau saat ini, lembah tertutup bunga-bunga dan semak mawar serta lilac di taman memiliki bau yang sama dengan sekarang. Di atas semua keindahan itu terbentang langit biru dan awan musim panas berarak.
Saat itu ada sebuah kastil di tengah danau. Kokoh dan gagah dengan dinding yang merah dan atap keemasan di atasnya.
Matahari nyaris terbenam dan langit bercahaya layaknya lautan emas. Tak seorangpun terlihat, kastilnya tertutup , hanya seekor burung perkutut menyanyikan lagunya dari puncak pohon lemon di taman di belakang kastil. Wewangian musim panas harum semerbak, namun tak seorangpun hadir untuk menikmatinya.
Tiba-tiba sebuah pintu kecil terbuka dan seorang gadis muda melangkah keluar. Dengan hati-hati dia menuruni anak tangga langkah demi selangkah menuju tepian danau. Di tepian air dia berhenti dan melihat ke seberang danau.
Dia adalah Agneta, putri dari pemilik kastil, putrinya semata wayang dan penghiburnya setelah ditinggal mati oleh sang istri bertahun-tahun yang lalu. Agneta diam memandangi matahari yang berpendar merah tenggelam perlahan di ujung danau, bertanya-tanya pada dirinya sendiri seperti apa rasanya tinggal di dunia ajaib di awan yang berganti rupa dan warna setiap waktu.
Agneta and the Sea King
Namun kemudian sesuatu menarik perhatiannya. Di dekat kakinya air bergelombang seraya sesuatu yang asing berenang ke arahnya. Apakah itu seekor ikan, ataukah seorang pria? Agneta sedang berbalik pergi ke kastil ketika figur asing itu mengangkat tangannya dan menunjukkan sebuah wajah dengan kesedihan yang mendalam sehingga membuatnya berdiri diam dan bertanya dengan suara yang bergetar, “Siapa kau? Dan bagaimana caranya kau kemari?”
Matanya yang gelap dan besar melihat kembali ke arah Agneta seperti sepasang mata rusa, dan di mulutnya adalah sebuah senyum yang asing, namun dia tak memberi jawaban.
“Beritahu aku siapa kau!” Ulang Agneta. “Jika aku dapat menolongmu, akan kulakukan dengan senang hati, dan jika tidak, mungkin ayahku bisa, karena dia adalah seorang yang berkuasa.”
Orang asing itu lalu mulai bicara, “Tidak, hanya kau. Hanya kau yang dapat memberiku ketenangan dan kebahagiaan.”
Suaranya lembut dan tenang, seperti suara angin sepoi yang berhembus di layar-layar sebuah kapal. Dan dia kembali mengangkat tangannya. Agneta tak pernah melihat sebuah wajah yang lebih indah. Rambutnya yang basah dan lebat membingkai pipinya, bibirnya yang keunguan terbuka menjadi senyum yang lembut. Yang paling memukau adalah matanya. Agneta tak pernah berpikir bahwa sepasang mata dapat menunjukkan sebuah kesedihan yang amat sangat sekaligus kelembutan. Matanya seperti kedalaman laut, yang mampu memikat Agneta, di satu saat gelap dan misterius, di saat yang lain dipenuhi cahaya matahari yang berkilau.
Agneta melangkah makin ke tepian air. “ Beritahu aku siapa dirimu!” Pintanya untuk ketiga kalinya.
Kemudian dia menjawab dengan suara yang lembut, “Aku adalah Raja Laut yang sudah tinggal beratus tahun di danau ini. Jauh sebelum ayahmu membangun kastil ini, di sini adalah kerajaanku. Aku melihat tanah kosong di sini tumbuh menjadi sebuah hutan, yang sekarang tinggi menjangkau langit. Dulu sekali danau ini jauh lebih besar dan jauh ke dalam daratan, namun dia mengecil, seperti yang terjadi pada semua hal yang berhubungan dengan manusia. Dan tetap saja, tidak ada satupun danau di dunia yang luas ini yang secantik, sedalam dan setenang danau ini.”
“Anehkah di dalam sana di antara lumut dan tumbuhan air dan semua makhluk-makhluk danau?” Tanya Agneta.
“Kalian manusia selalu berpikir demikian tentang tempat-tempat yang tak kalian ketahui.” Jawab sang Raja Laut.
“Sebenarnya, di bawah sana amatlah indah! Jauh lebih indah dari pada di atas sini di daratan. Matahari bersinar dua kali lebih terang tanpa menyengat. Dan ketika badai serta hujan mengguncang rumah-rumahmu di atas sini, dasar danau sepi dan tenang. Namun tak peduli sebanyak apa aku menceritakan duniaku, aku hanya dapat memberikan khayalan semu. Kau harus melihatnya sendiri untuk dapat percaya.”
“Tapi kami manusia tak dapat tinggal di dasar danau,” sesal Agneta sembari melangkah lebih dekat ke air.
“Kau bilang begitu karena kau belum pernah mencoba.” Kata Raja Laut sambil tertawa. “Aku dapat membawamu ke bawah sana tanpa menyakitimu. Dan aku dapat menunjukkanmu banyak lagi hal-hal menakjubkan lebih dari yang dapat kau bayangkan.”
Dia lalu meletakkan tangannya pada sepatu mutiara Agneta yang mungil, kemudian memandang Agneta dengan pandangan memohon.
“Tidak, aku tak berani!” Keluh Agneta. “Ayahku akan cemas dan mencari-cari aku. Dan aku ingin pulang sebelum matahari tenggelam. Selamat malam!”
“Akankah kau meninggalkan aku begitu saja?” Panggil Raja Laut dengan pedih. “Dapatkah aku kembali ke duniaku dengan kesepian sama seperti sebelumnya? Setidaknya berikan aku kenang kenangan untuk menghibur aku dalam perjalananku. Berikan aku kembang lemon yang kau bawa di tanganmu itu. Selama aku dapat mencium wanginya aku akan percaya bahwa kau dekat denganku.”
Agneta lalu menjulurkan tangannya dengan kembang lemon dalam genggamannya, “Dengan senang hati kuberikan. Ini, ambillah.”
Sang Raja Laut menjulurkan tangannya untuk meraih kembang itu dan menggenggam tangan Agneta. Dia lalu merengkuh pinggangnya dan mengangkatnya ke dalam pelukannya. Agneta memberontak dan menjerit, namun dia menyelam jauh ke dalam kedalaman bersama Agneta. Pada saat yang sama matahari tenggelam dan segera setelah itu awan-awan menjadi gelap dan malam pun tiba.
Ketika Agneta tak juga pulang, ayahnya amat khawatir. Dikirimnya seluruh pelayan-pelayan untuk mencari Agneta di taman dan hutan, namun tak ada yang berhasil menemukannya. Pada akhirnya seorang anak menemukan sepatu mutiara Agneta di tepi danau, dan ini membuat si ksatria tua itu dipenuhi kesedihan. Pikirnya Agneta telah tenggelam di dalam danau. Dengan sia-sia dimintanya para pelayan untuk mencari jenasah Agneta. Bahkan itu pun tak dia dapat.
Hanya dalam beberapa tahun dia lalu menua dan tak lagi peduli pada segala macam hal yang terjadi di sekitarnya. Biasanya dia bangun dan berjalan di sepanjang tepian danau. Pada hari-hari cerah dia memandang lama ke arah kedalaman danau dan di malam hari di bawah cahaya bulan, layaknya bayangan, dia mematung dan memandang ke arah danau yang gelap.
Kenyataannya, Agneta tidaklah tenggelam. Dia tinggal di kedalaman bersama sang Raja Laut dan hidup bahagia. Awalnya dia ketakutan ketika Raja Laut membawanya ke kedalaman, namun begitu dia mencapai dasar laut, ketakutannya menghilang dan Raja Laut terlihat bahkan lebih tampan dari sebelumnya. Seperti setangkai bunga teratai yang  terlihat lebih cantik saat berenang di antara gelombang, begitu pula Sang Raja Laut menyingkapkan keindahan aslinya di kedalaman.
Dan apa yang dia katakana tidaklah berlebihan. Di sekitar Agneta, gelombang air terdengar seperti musik harpa. Di saat malam ketika bulan terbit, perairan bercahaya layaknya perak, dan ketika matahari terbit, semuanya disiram cahaya yang memikat. Di satu waktu penuh kilauan cahaya biru, kemudian cahaya yang menyala layaknya emas, atau bersinar kehijauan. Atau semuanya menjadi pucat dan mengalir dalam arus keunguan seperti awan di kala musim panas.
Berkeliling di antara bunga bunga yang nampak asing yang tumbuh di dasar danau, Agneta dapat memetik banyak kuntum dan kemudian membuat untuk dirinya sendiri mahkota bunga. Namun saat ia menciumi bunga bunga itu, tak dapat dia mencium baunya. Seperti burung burung di langit, ikan bergelimang di atas kepalanya. Ada kelompok ikan ikan berwarna emas yang memantulkan cahaya matahari, ada juga ikan ikan dengan sirip merah dan ikan ikan perak dengan mulut yang aneh; yang tidak bergerak gerak dan hanya insangnya yang bergetar pelan, seakan akan sedang bicara dengan dirinya sendiri.
Kemudian Raja Laut menuntunnya makin dalam.
“Ini adalah aula bangket milikku.” Katanya “dan di sini adalah tempat kita merayakan pernikahan kita.”
Agneta melihat berkeliling menyadari dirinya berada di sebuah lembah dalam kehijauan. Jauh di atas adalah sebuah kubah Kristal kehijauan dengan sebuah lampu keemasan di tengahnya. Itu adalah cahaya matahari yang bersinar menembus air.

sang Raja Laut memainkan harpanya untuk Agneta

Kemudian Raja Laut mengambil harpanya dan berkata, “Sekarang aku akan memainkan musik untukmu.”
Pada nada pertama, Agneta merasa hatinya akan hancur. Suaranya terdengar amat merdu dan sendu di saat bersamaan dan matanya mulai dibasahi air mata. Namun begitu Raja Laut mulai bernyanyi, semua kesedihan dan rasa sakit lalu menghilang, karena semuanya terlupakan. Agneta melupakan kastil ayahnya dan masa kecilnya. Dia melupakan kasih sayang ayahnya dan kenangan tentang ibunya. Dia lupa bahwa dia dibesarkan di daratan dan pernah melihat langsung ke langit. Dia melupakan mawar musim panas di taman kastil dan kepingan salju di musim dingin, bau ukupan di gereja dan lilin lilin di altar. Satu satunya hal yang dia ingat hanyalah Raja Laut dan yang ia inginkan hanyalah untuk diam bersama sang Raja dan mendengarkan nyanyiannya selamanya.
Saat Raja Laut usai memainkan harpanya, dia berkata pada Agneta, “Sekarang engkau akan menjadi ratuku dan akan tinggal bersamaku selamanya. Bersediakah engkau, sayangku Agneta?”
“Ya, ya!” Seru Agneta.
Raja Laut lalu memberikannya sebuah mahkota dari bunga teratai dan meletakkannya di atas kepalanya, dan sejak saat itu Agneta adalah ratunya.

Raja Laut mengenakan mahkota bunga pada kepala Agneta

Tiba saatnya bagi Agneta untuk mengetahui keseluruhan dari kerajaan milik Raja Laut. Kerajaannya ternyata jauh lebih besar dari yang dia bayangkan. Betapa gembiranya mereka ketika Raja Laut memeluk Agneta dan membawanya berenang sepanjang sungai bagaikan burung terbang di udara. Tanaman tanaman di tepian air membungkuk hormat saat mereka berlalu. Sungai menjadi makin lebar dan lebar saat akhirnya terbuka menuju lautan.
Namun Agneta tak diijinkan pergi ke permukaan air, sebab Raja Laut khawatir kalau kalau Agneta akan mengingat semua hal dari daratan dan dia akan merindukan masa lalunya.
Selama tujuh tahun Agneta menjadi istri Raja Laut dan melahirkan tujuh orang anak lelaki. Kesemua putranya serupa dengan ayah mereka, dengan mata belok yang hitam. Yang paling muda masih di dalam keranjang bayinya.
Suatu hari Minggu pagi, Agneta sedang duduk di sisi keranjang bayinya dan menyanyikan lagu untuk putranya sementara anak anaknya yang lain sedang bermain di luar dengan gelombang air. Dia tak tahu bahwa hari itu hari Minggu, sebab hari dan tahun tahun adalah sama baginya. Namun samar samar dia dapat mendengar suara lonceng “ding, dong, ding, dong” menjangkau hingga dasar danau. Agneta menolehkan kepalanya dan mendengar baik baik.
“Itu suara lonceng!” Pikirnya. “Aku pernah mendengarnya dahulu… tapi di mana?”
Tiba tiba gambaran sebuah gereja muncul di depan matanya, langit langitnya, lilin lilin di altar, suara organ yang lantang. Sambil menghela napas dia meninggalkan keranjang bayinya kemudian pergi mendapatkan Raja Laut dan pintanya, “Biarkan aku pergi ke gereja! Kumohon biarkan aku pergi! Sudah begitu lama sejak terakhir kali aku pergi ke sana.”
Dengan was was Raja Laut memandangnya. Mengapa tiba tiba Agneta mengingat masa lalunya?
“Engkau ingin pergi ke gereja? Mengapa hari ini?” Tanyanya.
“Tiba tiba aku ingin sekali pergi.” Jawabnya. “Aku merasa seakan akan aku akan mati jika kau tak mengijinkan.”
“Baiklah, kau dapat pergi.” Jawab Raja Laut. “Tapi kau harus berjanji untuk kembali sebelum malam. Semua putra putra mu menanti kedatanganmu.”
“Tentu saja aku akan kembali.” Kata Agneta dan tersenyum. “Kau pikir aku dapat bahagia tanpa engkau, tanpa anak anak kita, tanpa si bungsu di dalam keranjang bayinya?” Dia lalu membungkuk dan mencium putranya yang tertidur.
“Baiklah. Ikuti aku.” Kata Raja Laut. Laksana anak panah dia dan Agneta meluncur menuju permukaan kemudian dia menaikkan Agneta ke tepi kastil. Setelah itu dia kembali menghilang di kedalaman.
Kepala Agneta terasa pusing. Dia menutupi matanya dengan tangannya, sebab terlalu silau cahaya matahari baginya dan semuanya terlihat begitu bercahaya di bawah warna warna berkilau. Saat dia memandang sekitarnya, dia mengenali kastil milik ayahnya, berdiri kokoh seperti saat dia tinggalkan, dan dari arah taman dapat tercium wangi kembang lemon dan mawar. Burung layang layang terbang rendah di atas kepalanya sementara suara lonceng memenuhi udara. Kemudian dia dapat melihat gereja –pintunya terbuka –dan dengan cepat dia berlari ke sana.
Ibadah telah dimulai. Di antara orang orang yang berlutut adalah seorang pria tua, berpakaian seragam ksatria yang rapi. Jenggotnya putih dan panjang sementara wajahnya terbenam dalam kedua telapak tangannya. Namun dengan cepat Agneta dapat mengenal orang itu. Pria itu adalah ayahnya. Agneta menyadari betapa air mata bertetesan dari wajah pria itu dan dadanya sesak saat bernapas dan Agneta tahu ayahnya merasakan kesedihan luar biasa. Di bagian belakang gereja tempat dia berdiri, Agneta jatuh  bersimpuh dan menangis seakan akan hatinya hancur.
Ibadahnya berlangsung lama. Asap bau ukupan naik ke udara dan lilin lilin di altar terbakar hingga pendek, musik organ makin lantang dan suara lagu memenuhi bangunan itu. Kemudian seakan akan ada awan yang lewat di luar. Gereja itu menjadi gelap dan Agneta menyadari bahwa lukisan lukisan orang suci telah terbalik menghadap dinding. Dia lalu sadar bahwa pintu gereja telah terbuka dan di sana berdiri Raja Laut.
“Agneta,” bisiknya “ikutlah denganku, engkau telah pergi terlalu lama.”
Dia tidak menjawab dan justru membenamkan wajahnya ke dalam dua belah tangannya. Raja Laut lalu menyentuh bahunya dan Agneta dapat merasakan ketakutan menjalar di tubuhnya.
“Agneta.” Ia memohon dengan suara lembut, “Anak anakmu merindukan engkau. Jangan biarkan mereka menunggu dengan sia sia.”
Agneta hanya menggeleng dan melipat tangannya.
“Agneta,” Katanya lagi, kali ini suaranya terdengar sangat sedih sehingga Agneta rasanya tak sanggup mendengarkan. “Si bungsu di keranjangnya merindukanmu. Dia menangis sebab dia tak dapat menemukanmu.”
Sekarang Agneta menoleh ke arah Raja Laut. Wajahnya pucat diliputi kesedihan, namun dia berkata dengan suara yang tegas, “Mereka menunggu dengan sia sia. Engkau pun bisa menunggu selama yang kau inginkan. Tak seorangpun dapat membawaku kembali ke kerajaanmu. Tinggalkan aku!”
Raja Laut menghela napas yang dalam, membuat semua nyala lilin di gereja itu bergetar.
“Agneta, lihatlah aku.” Dia memohon.

Agneta menolak permintaan Raja Laut

Namun Agneta tak mengangkat wajahnya. Dia berlutut di tempat dan diam mematung. Kemudian Raja Laut pelan pelan meninggalkan tempat itu. Agneta merasakan udara dingin terangkat saat Raja Laut membuka pintu. Segera setelah dia pergi, lukisan lukisan orang suci berbalik menghadap dirinya lagi. Cahaya matahari kembali bersinar dari balik awan dan memenuhi gereja itu dengan cahayanya yang hangat, dan semua orang berdiri dan beranjak pergi. Saat ayah Agneta pergi menuju pintu gereja, dia berdiri terpaku seakan akan telah melihat hantu. Mungkinkah ini? Mungkinkah itu putrinya yang telah lama hilang?
Agneta melangkah menuju ayahnya dan memeluknya sambil berkata, “Ya, ini aku, Agneta mu. Aku telah pergi untuk waktu yang lama di istana Raja Laut, namun kini akhirnya aku telah kembali ke daratan, dan aku akan tinggal di sini.”
Kemudian dengan bergandengan tangan, penuh kebahagiaan, ayah dan anak pergi ke luar menuju sinar mentari yang hangat.

 

***

Dongeng yang tragis. Entah kenapa dongeng yang menyangkut merman (duyung) selalu berakhir tragis, seperti juga the Little Mermaid. Jika diperhatikan, versi ini dibuat setelah masuknya pengaruh kristiani ke Swedia. Sebelum masa itu, di versi lainnya adalah roh ibunya yang menuntun Agneta kembali ke daratan, atau juga kedua orang tuanya atau anggota keluarga yang lain. Nama Agneta pun bervariasi, dari Agneta ke Agnete atau ke Agnes. Demikian juga jumlah putranya. Yang manapun itu, di setiap versi, pada akhirnya Agneta selalu meninggalkan sang Raja Laut dan anak anak nya.

Untuk menghormati kisah tua yang tragis ini, dibuatlah sebuah set patung di kanal di Copenhagen, yang menggambarkan putra putra Agneta dan sang Raja Laut yang masih menunggu kepulangan Agneta dengan sia sia.

Sumber:

ancient-origins
told-tales.livejournal

Senang cerita dongeng? Cek cerita ini: Ksatria tak Bernama

Lihat lebih banyak kisah di Menu Nona Suwanda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s