Hal Unik dalam Tragedi Titanic

kisah tragis, romance, sejarah, tokoh sejarah, vintage

Tenggelamnya kapal Titanic pada 15 April 1912 adalah salah satu tragedi yang paling membekas di ingatan orang-orang di bumi, bahkan hingga kini; bertahun-tahun setelahnya. Banyak yang berkata tragedi itu terjadi karena keangkuhan manusia dalam ambisi mereka untuk menciptakan sesuatu yang bahkan melampaui kemampuan Tuhan sang Pencipta. Kepopulerannya ditambah lagi dengan sebuah film epik yang dibuat sedemikian rupa dan membuat Titanic menjadi legenda baik dalam sejarah maupun dunia fiksi. Namun ada beberapa hal yang jarang diketahui orang mengenai tragedi Titanic.

Kapal Titanic yang digadang-gadang tak dapat ditenggelamkan dan ironisnya tenggelam dalam pelayaran perdananya. Namun, film Titanic yang terkenal itu justru menyoroti sebuah kisah romansa fiktif dari banyaknya kisah lain yang lebih mendebarkan dan benar-benar terjadi di atas kapal Titanic, sebelum akhirnya kapal raksasa itu tenggelam ditelan samudra Atlantik. Di bawah ini adalah kumpulan kisah-kisah nyata dari tragedi Titanic, yang adalah sebuah tragedi laut terbesar dalam sejarah manusia.

Freeman_Liz_12#70E9

Kapal Titanic bertahun-tahun kemudian di dasar lautan

  1. Perbedaan kelas yang masih menonjol

Saat itu, sebagai sebuah kapal yang menanadai pencapaian luar biasa teknologi, kapal Titanic memiliki banyak penumpang dari kalangan atas, kalangan yang biasa bepergian ke tempat-tempat liburan di musim-musim tertentu dan saling bertemu di tempat-tempat tersebut; kalangan yang terbiasa dengan kemewahan, yang membawa pelayan-pelayan pribadi dan governess bagi anak-anak mereka.

titanic-12 first class suite

Interior Suite kelas satu Titanic

Pada masa itu pembedaan ruang yang jelas bagi penumpang-penumpang dari kelas yang berbeda adalah hal yang wajar. Terdapat tiga kelas di Titanic, yaitu kelas satu untuk kalangan bangsawan, pengusaha dan keluarganya, kelas dua untuk rakyat biasa dan kelas tiga untuk kalangan imigran yang berharap mendapatkan kehidupan yang lebih layak di Amerika.

Terdapat beberapa kejadian di mana para petugas tetap menjalankan pembatasan ruang bahkan setelah kapal-kapal penyelamat diturunkan, bahwa para petugas memprioritaskan penumpang kelas satu. Namun, pada akhirnya, penumpang kelas dua dan tiga dibiarkan naik ke dek sebelum semua kapal penyelamat diturunkan.

Sayangnya, separuh dari penumpang seakan-akan ditakdirkan meninggal, sebab dari 2207 orang di atas kapal Titanic pada malam itu, hanya tersedia 1178 ruang di kapal penyelamat.

Setelah semua kapal penyelamat (kecuali dua yang tak kunjung berhasil hingga Titanic akhirnya tenggelam), penumpang yang tersisa di kapal Titanic (mayoritas kelas 2 dan 3) hanya bisa pasrah dan mulai membentuk kelompok-kelompok doa di dek. Salah satunya dipimpin pendeta Thomas Byles, seorang penumpang kelas 2.

titanic-1

Salah satu kapal penyelamat dari Titanic menjelang dibawa ke atas kapal Carpathia

  1. Sikap Gentleman khas Inggris

Pada masa itu, adalah sebuah hal yang biasa bagi para seorang Gentleman (pria Inggris dari kalangan atas dengan sikap dan prinsip yang dianggap terhormat) untuk menemani (semacam mengawal) para wanita yang sendirian (para Lady yang berpergian sendiri). Salah seorang di antaranya adalah Colonel Gracie. Di kapal Titanic dia menemani 5 orang Perempuan. Ketika perintah evakuasi dimulai, Colonel Gracie berlari mati-matian memastikan keselamatan kelima wanita ini, sebab suite mereka berada di area yang terpisah. Pada akhirnya dia masuk ke air bersama kapal Titanic, namun dia berhasil berenang menuju sebuah kapal penyelamat.

titanic-9 col gracie

Colonel Gracie; beliau meninggal delapan bulan setelah tragedi Titanic akibat pneumonia yang dideritanya sejak berenang dari Titanic

Dari sekian banyak penumpang wanita kelas satu, hanya 4 orang perempuan yang meninggal (3 di antaranya memilih tinggal), sebab petugas dan penumpang pria kelas satu bersikeras bahwa wanita dan anak-anak yang pertama ditolong. Para pria dengan penuh harga diri menunggu di kapal dan dengan sigap membantu para kru dalam proses evakuasi termasuk penurunan kapal-kapal penyelamat. Beberapa pria dari usia lanjut menolak dimasukkan ke kapal penyelamat justru menunggu dengan tenang di atas dek kapal Titanic yang mulai tenggelam.

titanic-10 benjamin guggenheim

Benjamin Guggenheim, ironisnya, meski saat itu dia berpergian dengan selingkuhan dan pelayan wanita selingkuhannya (keduanya telah dia masukkan ke sebuah kapal penyelamat) dia justru memberikan pesan terakhir kepada istrinya

Benjamin Guggenheim, salah seorang penumpang kelas satu menitip pesan pada seorang wanita sebelum wanita itu menaiki kapal penyelamat, “Jika terjadi sesuatu padaku, beritahu istriku aku telah melaksanakan tugasku dengan baik. Kami telah berpakaian dengan sangat baik dan siap tenggelam sebagai para gentlemen.” Dia telah diberikan sebuah jaket pelampung oleh kru, namun dia memberikannya pada penumpang lain yang tak memiliki jaket pelampung dan justru mengenakan pakaian pesta resmi.

Mayoritas dari para pria yang selamat, berhasil bertahan sebab berenang ke perahu penyelamat setelah Titanic tenggelam.

  1. Kru yang amat profesional

Ketika hiruk pikuk evakuasi mulai terjadi di atas kapal Titanic, bukanlah mitos bahwa band pemusik tetap bermain sepanjang malam. Sejak perintah evakuasi dikeluarkan, pemimpin band Wallace Henry Hartley memainkan ragtime bersama timnya, sekalipun beberapa dari mereka masih mengenakan pakaian tidur mereka.

titanic-7 musician

Musisi dari Titanic; mereka disebut ‘heroik’

Begitu kapal Titanic mulai tenggelam dan kapal-kapal penyelamat mulai diturunkan, mereka tetap tak beranjak dan mulai memainkan himne “Autumn” (musim gugur) dengan lirik “Angkat aku dari air yang deras, buat aku melihat ke atas”.

Penumpang yang selamat bersaksi bahwa mereka tetap mendengarkan musik, bahkan setelah lampu kapal mati. Musik itu hanya terhenti ketika kapal Titanic menjadi miring dan mulai masuk ke dalam lautan.

Seorang juru roti bernama Joughin segera mengumpulkan anak buahnya untuk menyiapkan ransum bagi kapal-kapal penyelamat begitu perintah evakuasi keluar. Setelah tugasnya selesai dia ikut membantu menurunkan kapal. Seorang petugas memintanya ikut naik ke salah sebuah kapal untuk membantu para wanita di kapal setelah mereka diturunkan ke laut, namun Joughin bersikeras menolah, mengatakan bahwa sudah ada cukup pria di atas kapal itu. Dia lalu pergi meneguk sejumlah whiskey dan mengenakan jaket pelampung (setiap penumpang dibagikan jaket pelampung), dia masuk ke air bersama-sama dengan kapal Titanic. Keberuntungan dan whiskey yang keras membuatnya bertahan dari dingin, mengapung-apung sepanjang malam dan berhasil berpegangan pada sebuah kapal penyelamat yang terbalik.

Petugas Lightoller adalah seorang petugas yang tetap bersikeras menurunkan sebuah kapal penyelamat yang terakhir sekalipun Titanic telah miring. Dia dan beberapa pria lainnya berhasil mencapai kapal penyelamat yang terbalik itu. Setelah diselematkan oleh kapal Carpathia, Lightoller adalah orang terakhir yang keluar dari kapal penyelamat itu sambil membawa jazad seorang pria (meninggal kedinginan, mereka semua basah di suhu kuran dari 0 derajat) bersamanya.

titanic-11 charles lightoller

Petugas Charles Lightoller

Beberapa petugas lain, seperti Phillips, telah diperintahkan oleh sang Kapten untuk meninggalkan tugasnya dan menyelamatkan diri, namun tetap bersikeras menjalankan tugasnya.

Dari 16 kapal penyelamat, ada 14 kapal penyelamat yang diturunkan sebelum Titanic tenggelam (dua kapal lainnya turun setelah Titanic mulai miring, salah satunya bahkan dalam keadaan terbalik). Dari 16 kapal itu, hanya 1 kapal yang kembali untuk memungut korban Titanic. Mereka hanya mendapatkan 4 orang. Satu dari dua kapal penyelamat yang diturunkan terakhir terpaksa harus menolak para perenang yang ingin naik. Seorang di antaranya berenang menjauh dan berkata ; “Semoga beruntung. Tuhan memberkatimu.”

  1. Kapal Californian yang abai

Salah satu hal yang paling disesalkan dalam tragedi ini adalah kenyataan bahwa yang pertama kali menolong korban Titanic adalah kapal Carpathia yang berjarak 45 mil dari lokasi Titanic tenggelam, sementara kapal Californian berada hanya 10 mil dari lokasi kejadian. Kapten kapal Californian, Lord, sebenarnya dapat saja memerintahkan anak buahnya untuk segera mendatangi kapal yang butuh bantuan itu, namun dengan alasan tidak mengetahui sinyal yang diberikan Titanic, barulah beberapa jam kemudian Californian datang menolong. Tentu saja saat itu telah terlambat. Selama sisa hidupnya, Captain Lord mencoba memperbaiki nama baiknya dengan sia-sia.

 

  1. Hingga maut memisahkan

Dengan adanya aturan wanita dan anak-anak yang didahulukan naik ke kapal penyelamat, banyak pasangan suami istri yang harus terpisahkan. Para istri memohon suami-suami mereka agar ikut naik kapal penyelamat, namun sebagai seorang gentleman mereka menolak.

Pasangan Edgar Meyer harus kembali ke kabin mereka khusus untuk berdebat masalah ini. Pada akhirnya Nyonya Meyer menyerah karena mempertimbangkan bayi mereka. Istri-istri yang lain harus dibohongi oleh para suami agar mau menaiki kapal penyelamat. Perlu dua orang petugas untuk menyeret Nyonya Charlotte Collyer agar meninggalkan suaminya. Suaminya berteriak padanya. “Pergilah Lottie! Demi Tuhan, beranilah dan pergi!”

titanic-4 harvey, marjorie, charlotte collyer

Keluarga Collyer, Mr. Collyer tenggelam bersama Titanic

Dengan berbagai cara istri-istri dinaikkan. Jaughin, sang juru roti bahkan berkata dia sempat harus ‘melempar’ sejumlah perempuan ke dalam kapal penyelamat; kasar namun efektif. Namun tak ada kuasa yang cukup besar yang dapat memisahkan Nyonya Ida Straus dari suaminya, Isidor Straus. “Aku selalu tinggal di sisi suamiku, jadi mengapa aku harus meninggalkannya sekarang? Kami sudah bertahun-tahun bersama. Ke mana kau pergi, aku pergi.” Kata Nyonya itu dengan tegas. Mempertimbangkan usianya yang sudah lanjut, petugas mempersilahkan tuan Straus untuk ikut masuk ke dalam kapal penyelamat, namun dengan penuh harga diri beliau menolak.

titanic-3 isidor and ida straus (penemu macy's)

Pasangan Straus ‘Sampai Maut Memisahkan’

Saksi mata mengatakan bahwa pasangan itu terus berdiri bergandengan di dek mengawasi proses evakuasi. Satu hal yang ironis, di surat wasiatnya Tuan Straus berpesan agar sepeninggal dirinya, istrinya lebih baik bersenang-senang dan jangan terlalu memikirkan orang lain. Namun istrinya, Isidor, lebih memilih mati bersama sang suami.

Keluarga Allisons (tuan, nyonya dan putri mereka Lorraine) berpelukan di dek, menolak untuk dipisahkan. Selain Lorraine Allisons, semua anak-anak penumpang kelas satu selamat.

titanic-8 Allison family Lorraine n Trevor

Keluarga Allison, putra mereka Trevor (kedua dari kanan) berhasil selamat karena dibawa naik ke kapal penyelamat oleh pelayan perempuan keluarga Allison

Satu lagi kisah yang membuktikan bahwa dalam keadaan paling kelam sekalipun, manusia adalah makhluk yang ingin menolong yang lain dan pada dasarnya baik. Sebuah lagu berjudul Skyfall karangan Adele mewakili perasaan Ida Straus;

Where you go I go
What you see I see 

I know I’ll never be me 

Without the security 

of your loving arms

Sumber: Great Tales of the Seas, the Reader’s Digest

-+-+-+-+-

Senang kisah tragedi dalam sejarah?

Sullivan Bersaudara; tragedi prajurit bersaudara ‘Selalu Bersama’

Pembantaian St. Valentine Day

Lihat cerita lainnya di Menu Nona Suwanda

Senang pakaian Vintage atau Classic? Lihat Valoli Online Shop

Lihat Galeri

Advertisements

One thought on “Hal Unik dalam Tragedi Titanic

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s