Kepingan Kenangan; Post Mortem Photography

kisah tragis, sejarah, vintage

Saat kehilangan orang yang dikasihi, setabah apapun seseorang akan membutuhkan sebuah kenang-kenangan untuk menghibur kehilangan kita dan memelihara kenangannya. Saat ini sebuah potret diri bukanlah sesuatu yang mewah, namun mundur ke abad 19 lalu, potret diri hanya diambil pada saat yang penting saja akibat mahalnya biaya foto. Maka dari itu, muncullah istilah post mortem fotografi. Post mortem berarti ‘pasca kematian’ dalam bahasa Latin. Fotografi ini khusus mengambil foto dari mereka yang telah mati, umumnya dilakukan bagi almarhum yang meninggal secara mendadak, yang mana keluarga yang ditinggalkan tidak memiliki foto untuk mengenangnya.

Saat itu, ketika tingkat kematian di usia muda masih tinggi, mereka yang secara mendadak kehilangan orang terkasih akan melakukan segala cara untuk mendapatkan secarik potret kenang-kenangan dari sang terkasih.

Umumnya jenasah almarhum diposisikan sedemikian rupa untuk memberi ilusi seakan-akan foto tersebut diambil saat almarhum masih hidup. Potret post mortem yang tersisa hingga kini mayoritas adalah foto anak-anak atau kalangan yang belum menikah (belum memiliki potret karena biasanya potret diambil saat pernikahan), dan tingkat kematian di usia muda tergolong tinggi akibat teknologi medis yang belum semaju sekarang.

Tanda-tanda yang biasanya menyertai sebuah potret post mortem adalah:

  1. Tampilan mata yang tidak wajar, sebab biasanya jenasah berada dalam keadaan menutup mata, sehingga bagian mata di potret terpaksa harus dilukis untuk memperlihatkan ilusi bahwa almarhum masih hidup saat potret diambil.
  2. Adanya penyangga, baik itu anggota keluarga, kursi atau bahkan sebuah tiang yang menyangga agar jenasah tidak terjatuh saat potret diambil.
  3. Pose tangan yang kaku atau tidak wajar, sebab dalam keadaan tertentu jenasah telah dalam keadaan kaku sehingga sulit mengatur posenya.

Di bawah ini adalah beberapa contoh foto-foto post mortem:

Jika saat ini kita dapat mengambil sebanyak mungkin selfie yang kita inginkan, ingatlah bahwa sebelumnya orang-orang tak seberuntung itu. Hal ini mengajarkan kita untuk menghargai semua yang kita miliki sebelum terlanjur kehilangan.
Dapatkah kalian bayangkan, di sebuah ruang tamu yang tertata rapi dan apik, dengan sebuah sisi dinding penuh dengan foto anggota keluarga tercinta. Sang nyonya lalu akan menunjukkan sebuah potret gadis cantik, “Ini putriku yang malang.” katanya

 

Sumber: wikipedia

Rosalia Lombardo yang cantik meninggal di usia muda. Ayahnya tak kuasa menahan duka dan mengubahnya menjadi mumi. Rosalia dijuluki si Putri Tidur.

Meninggal di hari pernikahannya, Pascualita dijadikan manekin oleh sang ayah.

Dapatkah roh seorang gadis dipindahkan ke dalam boneka? Simak di cerita singkat ini.

Lihat lagi cerita Nona Suwanda yang lain di sini: Menu Nona Suwanda
Lihat Galeri Nona Suwanda

Senang fashion vintage? Cek di Valoli Lolita Shop

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s