Pembantaian Hari St. Valentine

sejarah

Frank Gusenberg, satu dari tujuh orang yang dibantai, dilarikan ke rumah sakit dengan 14 lubang peluru di tubuhnya. Saat polisi menanyainya, Frank menjawab, “Tak seorangpun menembak aku.”. Frank meninggal tiga jam kemudian. Pembantaian hari St. Valentine menunjukkan keteguhan sejati seorang mafioso dalam sumpah omerta mereka.

Berlawanan dengan makna perayaan St Valentine, pada 14 Februari 1929, salah satu pembunuhan paling terencana dalam sejarah dieksekusi di Chicago, Amerika Serikat. Di depan sebuah gudang yang merupakan basis dari geng mafia North Side -rival berat geng Chicago Outfit yang dipimpin si kejam Al Capone-, di mana saksi mata melihat dua orang polisi turun dari sebuah mobil patroli dan menyerbu masuk ke dalam gudang. Setelah beberapa saat terdengar suara tembakan senapan mesin diikuti tembakan shotgun. Kemudian dua orang berpakaian sipil dengan topi dan jas terlihat berjalan keluar dengan ditodong senapan oleh kedua petugas polisi. Setelah menahan kedua orang tersebut, kedua polisi itu lalu mengemudi pergi.

Lokasi pembantian, gudang tempat berkumpulnya anggota geng North Side

Lokasi pembantian, gudang tempat berkumpulnya anggota geng North Side

Warga sekitar merasa lega karena akhirnya operasi kepolisian telah usai. Namun gonggongan Highball, anjing peliharan John May si pemilik gudang, tak juga berhenti. Seorang nyonya tetangga kemudian masuk ke gudang itu untuk mengecek keadaan Highball. Nyonya itu segera berlari keluar dilanda shock. Di dalam gudang terdapat tujuh orang pria berlumuran darah penuh lubang peluru. Mereka adalah anggota geng North Side, yang beberapa saat sebelumnya berseteru dengan geng Chicago Outfit mengenai distribusi alkohol ilegal. Chicago Outfit dipimpin oleh Al Capone, pemimpin mafia paling terkenal di jamannya.

Pemimpin geng Chicago Outfit, Al Capone

Pemimpin geng Chicago Outfit, Al Capone

Polisi ‘asli’ segera tiba di tempat kejadian. Dari ketujuh orang di tempat itu, hanya seorang yang bertahan, yaitu Gusenberg. Di rumah sakit, setelah dokter mampu menstabilkan kondisinya, polisi mulai menanyakannya perihal para pembunuh. Walaupun dipenuhi 14 lubang peluru di tubuhnya, Gusenberg bersikeras bahwa ‘tak seorangpun menembak aku’. Frank Gusenberg meninggal tiga jam kemudian. Hingga akhir hayatnya, Frank memegang teguh sumpah omerta seorang mafiosi.

Sumpah omerta adalah kode etik tak tertulis yang dipegang teguh kalangan mafiosi untuk menjaga rahasia keluarga dari kepolisian dan pemerintah.

Dari reka kejadian, diketahui bahwa keempat pelaku masuk dengan mendadak dan membariskan ketujuh pria anggota North Side berbaris menghadap dinding dan setelah itu secara sistematis menembakkan kedua senapan submesin Thompson (Tommy Gun) mereka, yang satu berisi 20 round  peluru, yang lain berisi 50. Mereka teliti, menyemburkan peluru dari kanan dan kiri. Bahkan setelah itu memastikan kematian korbannya dengan sejumlah tembakan shotgun di kepala.

Tommy Gun, senjata mesin paling populer di jaman pelarangan alkohol

Tommy Gun, senjata mesin paling populer di jaman pelarangan alkohol

Setelah itu, kedua ‘polisi’ itu dan kedua rekannya dengan tenang melangkah keluar dalam akting mereka.

Pertumpahan darah ini, ironisnya, dikenal dengan nama Pembantaian Hari St. Valentine.

Sumber: Wikipedia

Mafia datang ke Amerika dari Italia, sementara itu Rosalia Lombardo hingga kini masih tertidur dengan tenang di Italia. Rosalia Lombardo; gadis yang tidur abadi.

La Pascualita, boneka dari mayat?

Kisah misterius di balik lagu Nina Bobo

Masih banyak kisah lain MENU, Lihat Galeri

Suka dengan hal-hal vintage atau lolita? Bisa cek di shop kami di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s